Yamazaki Yoshie, Native Speaker Bahasa Jepang Pertama di Lampung

Yamazaki Yoshie, Native Speaker Bahasa Jepang Pertama di Lampung
Radar Lampung – Sabtu, 13 Juli 2013 67 Kali Dibaca
Share on facebook Share on twitter Share on google Share on myspace More Sharing Services
E-mail Email Berita
Cetak Print Berita
PDF PDF Berita
[PENELITI : Prof. Yamazaki Yoshie (tengah) bersama Kepala Pusat Bahasa Unila Drs. Deddy Supriady, M.Pd. dan dosen Unila Yulia kemarin. FOTO NUR JANNAH]

PENELITI : Prof. Yamazaki Yoshie (tengah) bersama Kepala Pusat Bahasa Unila Drs. Deddy Supriady, M.Pd. dan dosen Unila Yuliana kemarin. FOTO NUR JANNAH
30 Tahun Meneliti Adat Istiadat Sai Bumi Ruwa Jurai
Sudah lebih dari 30 tahun, Prof. Yamazaki Yoshie meneliti adat istiadat Sai Bumi Ruwa Jurai. Selain itu, ia juga menjadi dosen dan native speaker bahasa Jepang di Universitas Lampung (Unila).

Laporan Nur Jannah, BANDARLAMPUNG

KAMIS (11/7), lantai II Pusat Bahasa Unila tampak ramai. Tidak hanya para staf dan karyawan yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, puluhan mahasiswa juga tengah mendaftarkan diri untuk mengikuti kursus. Beberapa di antaranya ada pula yang menanyakan nilai hasil kursus yang mereka ikuti.

Kedatangan Radar Lampung ke sana mencoba untuk menemui kepala Pusat Bahasa Unila yang diketahui bernama Drs. Deddy Supriady, M.Pd. Kedatangan wartawan koran ini disambutnya dengan baik.

Setelah memperkenalkan diri dan mengungkapkan tujuan kedatangan Radar, Deddy memanggil salah satu tim bahasa Jepang yang diketahui bernama Yulia.

Tak lama berselang, dosen Unila ini menghubungi Yamazaki. ’’Sebentar saya hubungi Sensei Yamazaki,” kata perempuan berjilbab itu membuka pembicaraan.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Radar berkesempatan bertemu langsung dengan profesor asal Department of International Business Management Kyoei University itu.

Dengan didampingi Deddy dan Yulia, Yamazaki menceritakan kiprahnya selama di Provinsi Lampung. Menurutnya, sebagai seorang peneliti, ia mulai tertarik dengan kebudayaan Lampung sejak kali pertama datang bersama suaminya pada 1980 karena alasan tugas.

Atas dasar itulah, ia berkeinginan datang lagi ke provinsi berjuluk Sai Bumi Ruwa Jurai ini. ’’Karena kali pertama provinsi yang saya datangi saat ke Indonesia adalah Lampung, maka saya memutuskan untuk meneliti kebudayaan di sini,” kata Sensei, sapaan akrabnya.

Dilanjutkan, selama melakukan penelitian lebih dari 30 tahun tersebut, ia banyak dibantu oleh Unila. Itulah sebabnya, baginya kampus hijau adalah keluarga besarnya di Indonesia.

Sebagai bentuk pengabdiannya, ia akhirnya memutuskan untuk menjadi salah seorang pengajar di Unila serta menjadi satu-satunya native speaker di Lampung langsung dari Jepang.

’’Selama 30 tahun ini, saya memutuskan mengajar baru satu tahun terakhir,” kata Sensen dengan logat bahasa Jepang yang kental.

Menurut dia, keputusannya menjadi native speaker di Unila merupakan keinginannya untuk mengembangkan bahasa Jepang di Lampung. Sebab, di Lampung mulai SD-SMA sudah banyak yang mengenal bahasa Jepang.

’’Jadi saya ingin setelah lulus SMA masih bisa mendapatkan mata kuliah bahasa Jepang di perguruan tinggi,” kata ibu dua anak itu.

Dia menceritakan, dari hasil penelitiannya selama 30 tahun terakhir, banyak sudah yang mengalami perubahan di provinsi ini. ’’Selama 30 tahun itu telah banyak narasumber dan pemberi informasi lain yang telah meninggal dunia,” ujar Sensei.

Sampai saat ini, Yamazaki menjadi satu-satunya orang asing yang ahli budaya Lampung. Dari hasil penelitiannya selama meneliti di Lampung, ia telah berhasil mempresentasikan karya ilmiahnya di Negeri Sakura.
’’Konsentrasi saya khusus budaya Lampung. Ada juga rekan-rekan saya. Mereka meneliti budaya Batak dan lain-lain,” kata wanita yang rambutnya mulai memutih itu.

Selain menjadi dosen bahasa Jepang sekaligus peneliti budaya Lampung, selama dua tahun terahir, Yamazaki mulai berkonsentrasi meneliti ekowisata di Lampung. ’’Untuk penelitian ini, saya juga banyak dibantu Unila,” pungkasnya.

Comments

comments